Metode dan prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan yang
disediakan bagi perusahaan atau suatu organisasi bisnis disebut sistem akuntansi. Sistem
akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan besar sangat kompleks. Kompleksitas
sistem tersebut disebabkan oleh kekhususan dari sistem yang didisain untuk suatu
organisasi bisnis sebagai akibat dari adanya perbedaan kebutuhan akan informasi oleh
manajer, bentuk dan jalan transaksi laporan keuangan. Sistem akuntansi terdiri atas
dokumen bukti transaksi, alat-alat pencatatan, laporan dan prosedur yang digunakan
perusahaan untuk mencatat transaksi-transaksi serta melaporkan hasilnya. Operasi suatu
sistem akuntansi meliputi tiga tahapan:
· Harus mengenal dokumen bukti transaksi yang digunakan oleh perusahaan, baik
mengenai jumlah fisik mupun jumlah rupiahnya, serta data penting lainnya yang
berkaitan dengan transaksi perusahaan.
· Harus mengelompokkan dan mencatat data yang tercantum dalam dokumen bukti
transaksi kedalam catatan-catatan akuntansi.
· Harus meringkas informasi yang tercantum dalam catatan-catatan akuntansi menjadi
laporan-laporan untuk manajemen dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Disain Sistem
Sistem akuntansi di disain harus memenuhi spesifikasi informasi yang dibutuhkan oleh
perusahaan, asalkan informasi tersebut tidak terlalu mahal. Dengan demikian,
pertimbangan utama dalam mendisain sistem akuntansi adalah keseimbangan antara
manfaat dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh informasi tersebut.
Agar efektif, laporan yang disajikan oleh sistem akuntansi harus dibuat secara tepat
waktu, jelas dan konsisten. Laporan yang disajikan dengan pengetahuan dan kebutuhan
pemakai agar dapat digunakan sebagai pertimbangan didalam pengambilan keputusan.
Disainer (perancang) sistem harus memiliki pengetahuan untuk membedakan sistem
akuntansi dan metode pemrosesan data baik pemrosesan data secara manual maupun
dengan menggunakan komputerisasi. Kemampuan untuk membedakan pemrosesan
transaksi secara manual dan komputer cukup penting, karena pada organisasi bisnis
tertentu tidak semua transaksi dapat di proses dengan komputer dan kemampuan disainer
sistem dalam mengevaluasi alternatif-alternatif yang dipertimbangkan pengetahuan akan
prinsip-prinsip dasar sistem akuntansi. Singkatnya, prinsip dasar yang terkandung dalam
sistem akuntansi yang baik kemungkinan besar sistem yang didisain pada perusahaan
tertentu akan mengalami kesulitan ketika diterapkan.
Implementasi Sistem
Implementasi sistem bukan hanya merupakan tanggung jawab personel yang ada pada
bagian tertentu, tetapi semua personil harus bertanggung jawab terhadap pengoperasian
sistem. Pengoperasian sistem harus secara hati-hati dan selalu dilakukan supervisi atas
sistem tersebut sebelum dioperasikan sepenuhnya.
Buku Besar Pembantu
Buku ini biasa juga disebut buku tambahan. Buku pembantu ini disediakan untuk
rekening-rekening buku besar yang membutuhkan perincian, misalnya: piutang dagang,
utang dagang dan persediaan barang dagangan. Dari buku pembantu ini dapat disusun
daftar mengenai rekening yang bersangkutan pada setiap tanggal yang dikehendaki
(biasanya akhir bulan atau akhir tahun).
Jurnal Khusus
Sesuai dengan namanya, jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan khusus untuk
mencatat kelompok transaksi-transaksi yang sejenis. Pengelompokkan transaksi-transaksi
yang sejenis bergantung pada aktivitas perusahaan yang bersangkutan. Meskipun telah
disediakan jurnal-jurnal khusus, perusahaan tetap membutuhkan jurnal umum yang
digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang tidak dapat dicatat didalam jurnal
khusus, dan juga untuk keperluan membuat jurnal penyesuaian, jurnal penutupan dan
koreksi pembukuan. Format dan cara pemakaian jurnal-jurnal khusus berbeda dengan
jurnal umum. Perubahan tersebut dimaksudkan agar pengerjaan jurnal dan pembukuan
dari jurnal ke buku besar dapat dilakukan secara lebih efisien. Berikut adalah beberapa
jurnal khusus yang biasa diguankan:
· Jurnal Penjualan merupakan jurnal yang khusus digunakan untuk mencatat
transaksi-transaksi yang dilakukan secara kredit. Penjualan secara tunai biasanya
tidak dimasukkan dalam jurnal ini karena dalam transaksi penjualan tunai terjadi
penerimaan kas, sehingga penjualan tunai biasanya dicatat dalam jurnal penerimaan
kas.
· Jurnal Penerimaan Kas merupakan jurnal yang disediakan khusus untuk mencatat
transaksi penerimaan kas. Untuk menghemat waktu pencatatan, maka jurnal ini
dirancang dengan meanyediakan sejumlah kolom dan hanya total setiap rupiah yang
dibukukan kedalam buku besar.
· Jurnal Umum digunakan untuk mencatat penyesuaian pembukuan, penutupan
pembukuan, koreksi dan transaksi-transaksi lainnya yang tidak dapat dicatat didalam
jurnal khusus.
Senin, 02 Agustus 2010
Sistem Akuntansi dan Keuangan
SISTEM AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Pendahuluan
Sebelum membangun sistem akuntansi dan keuangan, maka harus dipahami dulu
apa dan bagaimana sistem akuntansi dan keuangan.
Sistem akuntansi dan keuangan adalah dua sistem yang terpisah terkait dengan
tugas dan peran bagian keuangan dan pembukuan. Sistem keuangan sangat terkait
dengan tugas dan peran bagian keuangan / cashier. Sedangkan sistem akuntansi
sangat terkait dengan tugas dan peran bagian pembukuan / bookkeeper.
Untuk membangun sistem akuntansi dan keuangan di organisasi, anda bisa
melakukan langkah-langkah berikut:
Menggambarkan struktur organisasi.
Memetakan prosedur sistem keuangan dan sistem akuntansi.
Menguraikan masing-masing prosedur dalam bentuk matrik kegiatan,
pelaksana dan media/hasil.
Menguraikan tugas para pelaksana khususnya bagian keuangan dan bagian
pembukuan.
Berikut ini merupakan contoh masing-masing tahapan tersebut yang telah dilakukan
oleh sebuah organisasi nirlaba.
Menggambarkan Struktur Organisasi
Organisasi adalah suatu kelompok individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu
tujuan yang sama. Tujuan dari organisasi dapat dibedakan menjadi tujuan jangka
panjang (non-operasional goals) dan tujuan jangka pendek (operasional goals).
Untuk mencapai tujuan tersebut, suatu organisasi akan membentuk berbagai unit
dengan kewenangan terbatas yang bertanggungjawab terhadap keberhasilan suatu
tugas atau fungsi. Dengan demikian suatu unit akan menerima beban pekerjaan
tertentu dan juga harus mempertanggungjawabkan kepada unit lain yang lebih
tinggi levelnya dalam pengambilan keputusan. Karena itu, maka akan terbentuk
jalur perintah dan pertanggungjawaban, dari unit tertinggi yaitu Pimpinan / Ketua
/ Direktur hingga unit terendah yang bertugas menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
teknis.
Dalam pelaksanaannya, suatu unit tidak mungkin bekerja sendiri dengan
mengabaikan keberadaan yang lain. Setiap unit akan selalu berhubungan dan bekerjasama dengan unit lainnya. Hubungan antar unit tercipta bukan semata
karena faktor perintah dan pertanggungjawaban, tetapi juga karena hasil kerja
suatu unit dibutuhkan oleh unit lain atau setidaknya akan memberikan pengaruh.
Dari pola hubungan ini, maka dalam organisasi akan terjadi pula hubungan
koordinasi.
Menggambarkan struktur organisasi pada dasarnya menggambarkan unit-unit yang
terdapat dalam organisasi dan menarik hubungan antar unit tersebut. Struktur
organisasi yang baik tentu harus mendukung pencapaian tujuan dan juga terjadi
pemisahan fungsi perencanaan (planning) dan pengawasan kegiatan (controlling).
Menggambarkan Sistem Akuntansi dan Keuangan
Setelah mendapatkan gambaran struktur organisasi yang berlaku, maka langkah
selanjutnya adalah merinci berbagai kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi.
Kegiatan yang dilakukan harus mengarah kepada pencapaian tujuan organisasi yang
telah ditetapkan sebelumnya. Pada umumnya semua kegiatan tersebut secara
fungsional akan digambarkan sebagai berikut :
1. Kegiatan menggalang dana untuk merealisasikan semua kegiatan yang
dirancang dalam rangka mencapai tujuan.
2. Setelah ada hasil dari kegiatan penggalangan dana, maka kegiatan
dilaksanakan dan dikelola sesuai dengan rencana baik program maupun
keuangan.
3. Pengelolaan kegiatan organisasi baik program dan keuangan setelah selesai
harus dipertanggungjawabkan baik kepada pihak pemberi dana maupun
pihak yang berkepentingan terhadap organisasi. Pertanggungjawaban harus
dilaporkan secara periodik.
Dari gambaran ketiga fungsi yang akan dilaksanakan oleh organisasi nirlaba, maka
organisasi harus merancang sistem dan prosedur terkait serta menggambarkan
hubungan antar sistem dan prosedur tersebut.
Memetakan Prosedur
Setelah sistem dan prosedur dirancang secara keseluruhan dan hubungan antar
sistem dipetakan, maka langkah berikutnya adalah merinci prosedur setiap sistem
yang direncanakan. Menindaklanjuti contoh di atas, maka berikut ini diuraikan
pemetaan prosedur masing-masing sistem.
1. Sistem Pengganggaran
2. Sistem Pengelolaan Keuangan
2.1. Subsistem Penerimaan
2.2. Subsistem Pengeluaran
2.3. Subsistem Pelaporan
Prosedur dipahami sebagai urut-urutan pekerjaan teknis yang melibatkan beberapa
orang dalam satu unit atau lebih. Prosedur disusun untuk menjamin adanya
perlakukan yang seragam terhadap transaksi sejenis yang terjadi dalam organisasi.
Pendahuluan
Sebelum membangun sistem akuntansi dan keuangan, maka harus dipahami dulu
apa dan bagaimana sistem akuntansi dan keuangan.
Sistem akuntansi dan keuangan adalah dua sistem yang terpisah terkait dengan
tugas dan peran bagian keuangan dan pembukuan. Sistem keuangan sangat terkait
dengan tugas dan peran bagian keuangan / cashier. Sedangkan sistem akuntansi
sangat terkait dengan tugas dan peran bagian pembukuan / bookkeeper.
Untuk membangun sistem akuntansi dan keuangan di organisasi, anda bisa
melakukan langkah-langkah berikut:
Menggambarkan struktur organisasi.
Memetakan prosedur sistem keuangan dan sistem akuntansi.
Menguraikan masing-masing prosedur dalam bentuk matrik kegiatan,
pelaksana dan media/hasil.
Menguraikan tugas para pelaksana khususnya bagian keuangan dan bagian
pembukuan.
Berikut ini merupakan contoh masing-masing tahapan tersebut yang telah dilakukan
oleh sebuah organisasi nirlaba.
Menggambarkan Struktur Organisasi
Organisasi adalah suatu kelompok individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu
tujuan yang sama. Tujuan dari organisasi dapat dibedakan menjadi tujuan jangka
panjang (non-operasional goals) dan tujuan jangka pendek (operasional goals).
Untuk mencapai tujuan tersebut, suatu organisasi akan membentuk berbagai unit
dengan kewenangan terbatas yang bertanggungjawab terhadap keberhasilan suatu
tugas atau fungsi. Dengan demikian suatu unit akan menerima beban pekerjaan
tertentu dan juga harus mempertanggungjawabkan kepada unit lain yang lebih
tinggi levelnya dalam pengambilan keputusan. Karena itu, maka akan terbentuk
jalur perintah dan pertanggungjawaban, dari unit tertinggi yaitu Pimpinan / Ketua
/ Direktur hingga unit terendah yang bertugas menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
teknis.
Dalam pelaksanaannya, suatu unit tidak mungkin bekerja sendiri dengan
mengabaikan keberadaan yang lain. Setiap unit akan selalu berhubungan dan bekerjasama dengan unit lainnya. Hubungan antar unit tercipta bukan semata
karena faktor perintah dan pertanggungjawaban, tetapi juga karena hasil kerja
suatu unit dibutuhkan oleh unit lain atau setidaknya akan memberikan pengaruh.
Dari pola hubungan ini, maka dalam organisasi akan terjadi pula hubungan
koordinasi.
Menggambarkan struktur organisasi pada dasarnya menggambarkan unit-unit yang
terdapat dalam organisasi dan menarik hubungan antar unit tersebut. Struktur
organisasi yang baik tentu harus mendukung pencapaian tujuan dan juga terjadi
pemisahan fungsi perencanaan (planning) dan pengawasan kegiatan (controlling).
Menggambarkan Sistem Akuntansi dan Keuangan
Setelah mendapatkan gambaran struktur organisasi yang berlaku, maka langkah
selanjutnya adalah merinci berbagai kegiatan yang akan dilakukan oleh organisasi.
Kegiatan yang dilakukan harus mengarah kepada pencapaian tujuan organisasi yang
telah ditetapkan sebelumnya. Pada umumnya semua kegiatan tersebut secara
fungsional akan digambarkan sebagai berikut :
1. Kegiatan menggalang dana untuk merealisasikan semua kegiatan yang
dirancang dalam rangka mencapai tujuan.
2. Setelah ada hasil dari kegiatan penggalangan dana, maka kegiatan
dilaksanakan dan dikelola sesuai dengan rencana baik program maupun
keuangan.
3. Pengelolaan kegiatan organisasi baik program dan keuangan setelah selesai
harus dipertanggungjawabkan baik kepada pihak pemberi dana maupun
pihak yang berkepentingan terhadap organisasi. Pertanggungjawaban harus
dilaporkan secara periodik.
Dari gambaran ketiga fungsi yang akan dilaksanakan oleh organisasi nirlaba, maka
organisasi harus merancang sistem dan prosedur terkait serta menggambarkan
hubungan antar sistem dan prosedur tersebut.
Memetakan Prosedur
Setelah sistem dan prosedur dirancang secara keseluruhan dan hubungan antar
sistem dipetakan, maka langkah berikutnya adalah merinci prosedur setiap sistem
yang direncanakan. Menindaklanjuti contoh di atas, maka berikut ini diuraikan
pemetaan prosedur masing-masing sistem.
1. Sistem Pengganggaran
2. Sistem Pengelolaan Keuangan
2.1. Subsistem Penerimaan
2.2. Subsistem Pengeluaran
2.3. Subsistem Pelaporan
Prosedur dipahami sebagai urut-urutan pekerjaan teknis yang melibatkan beberapa
orang dalam satu unit atau lebih. Prosedur disusun untuk menjamin adanya
perlakukan yang seragam terhadap transaksi sejenis yang terjadi dalam organisasi.
Minggu, 01 Agustus 2010
Laporan Keuangan
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN ADALAH ANTARA
LAIN :
1. INVESTOR
2. KREDITOR
3. PEMASOK
4. KREDITOR USAHA LAIN
5. PELANGGAN
6. PEMERINTAH
7. LEMBAGA LAIN
8. KARYAWAN DAN MASYARAKAT
9. SHAREHOLDER
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN INI UNTUK TUJUAN :
A. INVESTOR, BERKEPENTINGAN PADA RISIKO YANG MELEKAT DAN HASIL
PENGEMBANGAN DARI INVESTASI YANG DILAKUKAN. INFORMASI INI
BERTUJUAN MEMBANTU MENENTUKAN APAKAH HARUS MEMBELI, MENAHAN
ATAU MENJUAL INVESTASI TERSEBUT
B. KREDITOR (PEMBERI PINJAMAN), KREDITOR TERTARIK DENGAN INFORMASI
KEUANGAN YANG MEMUNGKINKAN MEREKA UNTUK MEMUTUSKAN APAKAH
PINJAMAN SERTA BUNGANYA DAPAT DIBAYAR PADA SAAT JATUH TEMPO
C. PEMASOK DAN KREDITOR USAHA LAIN, TERTARIK DENGAN INFORMASI YANG
MEMUNGKINKAN MEREKA UNTUK MEMUTUSKAN APAKAH JUMLAH YANG
TERHUTANG AKAN DIBAYAR ADA SAAT JATUH TEMPO
D. PEMEGANG SAHAM, BERKEPENTINGAN DENGAN INFORMASI MENGENAI
KEMAJUAN PERUSAHAAN,PEMBAGIAN KEUNTUNGAN YANG AKAN DIPEROLEH
E. PELANGGAN BEREPENTINGAN DENGAN KELANGSUNGAN HIDUP
PERUSAHAAN
F. PEMERINTAH, UNTUK HITUNGAN PAJAK DAN DANA
G. KARYAWAN, STABILITAS DAN PROFITABILITAS PERUSAHAAN
H. MASYARAKAT, EKONOMI NASIONAL
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
TUJUANNYA ADALAH MENYEDIAKAN INFORMASI
YANG MENYANGKUT POSISI KEUANGAN, KINERJA
DAN PERUBAHAN POSISI KEUANGAN SUATU
PERUSAHAAN YANG BERMANFAAT BAGI
SEJUMLAH BESAR PEMAKAI DALAM
PENGEMBILAN KEPUTUSAN EKONOMI
INFORMASI DAPAT DIBAGI MENJADI DUA, YAITU :
A. INFORMASI KINERJA PERUSAHAAN
B. INFORMASI PERUBAHAN POSISI KEUANGAN
PERUSAHAAN
LAPORAN KEUANGAN
SECARA LENGKAP TERDIRI DARI :
A. NERACA
B. LAPORAN LABA RUGI
C. LAPORAN PERUBAHAN POSISI KEUANGAN
D. LAPORAN TAMBAHAN
ASUMSI DASAR
DASAR AKRUAL
PENGARUH TRANSAKSI DAN PERISTIWA LAIN DIAKUI PADA SAAT
KEJADIAN DAN DICATAT DALAM CATATAN AKUNTANSI SERTA
DILAPORKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN PADA PERIODE YANG
BERSANGKUTAN BERSANGKUTAN. PADA LAPORAN INI TIDAK HANYA MEMBERIKAN
INFORMASI MASA LALU YANG MELIBATKAN PENERIMAAN DAN
PENGELUARAN KAS, MELAINKAN JUGA MEMBERIKAN INFORMASI
TENTANG KEWAJIBAN PEMBAYARAN KAS DAN SUMBERDAYA YANG
MEWUJUDKAN KAS YANG AKAN DITERIMA DIMASA YANG AKAN
DATANG
DASAR KELANGSUNGAN USAHA
LK BIASANYA DISUSUN ATAS DASAR ASUMSI KELANGSUNGAN
PERUSAHAAN, YANG BERARTI PERUSAHAAN AKAN TETAP
MELANJUTKAN USAHANYA DIMASA YANG AKAN DATANG. ARTINYA
PERUSAHAAN TIDAK BERMAKSUD MELIKUIDASI DAN MENGURANGI
SECARA MATERIAL SKALA USAHANYA
KARAKTERISTIK LAPORAN
KEUANGAN
MELIPUTI :
A. DAPAT DIPAHAMI
B. RELEVAN
C. KEANDALAN
D. DAPAT DIBANDINGKAN
E. TEPAT WAKTU
UNSUR POSISI KEUANGAN
AKTIVA
Adalah sumberdaya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan diharapkan akan
memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan di masa
depan
KEWAJIBAN
Adalah utang perusahaan masa kini yang timbul dari
peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diharapkan akan
mengakibatkan arus keluar dari sumberdaya perusahaan
yang mengandung manfaat ekonomi
EKUITAS
Adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi
semua kewajiban
UNSUR KINERJA PERUSAHAAN
PENGHASILAN
Adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan
aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari setoran penanam
modal
BEBAN
Adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya
aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan
penurunan ekuitas yang menyangkut pembagian kepada
penanam modal
PENGAKUAN UNSUR LAPORAN
KEUANGAN
PENGAKUAN AKTIVA
PENGAKUAN KEWAJIBAN
PENGAKUAN PENGHASILAN
PENGAKUAN BEBAN
JENIS DAN BENTUK LAPORAN
KEUANGAN
JENIS LAPORAN KEUANGAN
A. NERACA
ADALAH LAPORAN KEUANGAN YANG
MEMBERIKAN INFORMASI ENGENAI POSISI
KEUANGAN PERUSAHAAN
A. LAPORAN LABA RUGI
MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI
KEMAMPUAN (POTENSI) PERUSAHAAN DALAM
MENGHASILKAN LABA (KINERJA) SELAMA
PERIODE TERTENTU
FORMAT NERACA ( AKTIVA )
AKTIVA LANCAR
CONTOH : KAS, PERSEDIAAN,PIUTANG DAN
PERSEKOT BIAYA
INVESTASI JANGKA PANJANG
CONTOH : INVESTASI SAHAM, INVESTASI OBLIGASI
AKTIVA TETAP
CONTOH : TANAH, GEDUNG, KENDARAAN
AKTIVA TIDAK BERWUJUD
CONTOH : PATENT, GOODWILL, ROYALTY
AKTIVA LAIN‐LAIN
CONTOH : DEPOSITO, PINJAMAN KARYAWAN DLL
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN LANCAR
CONTOH : UTANG DAGANG, UTANG WESEL, UTANG
GAJI DAN UPAH, UTANG PAJAK
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
CONTOH : UTANG OBLIGASI, UTANG HIPOTIK
KEWAJIBAN LAIN‐LAIN
UTANG DIREKSI DAN UTANG PEMEGANG SAHAM
EKUITAS
EKUITAS DARI SETORAN PARA PEMILIK
EKUITAS DARI OPERASI DIVIDEN
BENTUK LAPORAN
1. REKENING
KIRI DAN KANAN
1. LAPORAN
ATAS DAN BAWAH
FORMAT LABA RUGI
PENGHASILAN( INCOME )
BEBAN ( EXPENSE )
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN ADALAH ANTARA
LAIN :
1. INVESTOR
2. KREDITOR
3. PEMASOK
4. KREDITOR USAHA LAIN
5. PELANGGAN
6. PEMERINTAH
7. LEMBAGA LAIN
8. KARYAWAN DAN MASYARAKAT
9. SHAREHOLDER
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN
PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN INI UNTUK TUJUAN :
A. INVESTOR, BERKEPENTINGAN PADA RISIKO YANG MELEKAT DAN HASIL
PENGEMBANGAN DARI INVESTASI YANG DILAKUKAN. INFORMASI INI
BERTUJUAN MEMBANTU MENENTUKAN APAKAH HARUS MEMBELI, MENAHAN
ATAU MENJUAL INVESTASI TERSEBUT
B. KREDITOR (PEMBERI PINJAMAN), KREDITOR TERTARIK DENGAN INFORMASI
KEUANGAN YANG MEMUNGKINKAN MEREKA UNTUK MEMUTUSKAN APAKAH
PINJAMAN SERTA BUNGANYA DAPAT DIBAYAR PADA SAAT JATUH TEMPO
C. PEMASOK DAN KREDITOR USAHA LAIN, TERTARIK DENGAN INFORMASI YANG
MEMUNGKINKAN MEREKA UNTUK MEMUTUSKAN APAKAH JUMLAH YANG
TERHUTANG AKAN DIBAYAR ADA SAAT JATUH TEMPO
D. PEMEGANG SAHAM, BERKEPENTINGAN DENGAN INFORMASI MENGENAI
KEMAJUAN PERUSAHAAN,PEMBAGIAN KEUNTUNGAN YANG AKAN DIPEROLEH
E. PELANGGAN BEREPENTINGAN DENGAN KELANGSUNGAN HIDUP
PERUSAHAAN
F. PEMERINTAH, UNTUK HITUNGAN PAJAK DAN DANA
G. KARYAWAN, STABILITAS DAN PROFITABILITAS PERUSAHAAN
H. MASYARAKAT, EKONOMI NASIONAL
TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
TUJUANNYA ADALAH MENYEDIAKAN INFORMASI
YANG MENYANGKUT POSISI KEUANGAN, KINERJA
DAN PERUBAHAN POSISI KEUANGAN SUATU
PERUSAHAAN YANG BERMANFAAT BAGI
SEJUMLAH BESAR PEMAKAI DALAM
PENGEMBILAN KEPUTUSAN EKONOMI
INFORMASI DAPAT DIBAGI MENJADI DUA, YAITU :
A. INFORMASI KINERJA PERUSAHAAN
B. INFORMASI PERUBAHAN POSISI KEUANGAN
PERUSAHAAN
LAPORAN KEUANGAN
SECARA LENGKAP TERDIRI DARI :
A. NERACA
B. LAPORAN LABA RUGI
C. LAPORAN PERUBAHAN POSISI KEUANGAN
D. LAPORAN TAMBAHAN
ASUMSI DASAR
DASAR AKRUAL
PENGARUH TRANSAKSI DAN PERISTIWA LAIN DIAKUI PADA SAAT
KEJADIAN DAN DICATAT DALAM CATATAN AKUNTANSI SERTA
DILAPORKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN PADA PERIODE YANG
BERSANGKUTAN BERSANGKUTAN. PADA LAPORAN INI TIDAK HANYA MEMBERIKAN
INFORMASI MASA LALU YANG MELIBATKAN PENERIMAAN DAN
PENGELUARAN KAS, MELAINKAN JUGA MEMBERIKAN INFORMASI
TENTANG KEWAJIBAN PEMBAYARAN KAS DAN SUMBERDAYA YANG
MEWUJUDKAN KAS YANG AKAN DITERIMA DIMASA YANG AKAN
DATANG
DASAR KELANGSUNGAN USAHA
LK BIASANYA DISUSUN ATAS DASAR ASUMSI KELANGSUNGAN
PERUSAHAAN, YANG BERARTI PERUSAHAAN AKAN TETAP
MELANJUTKAN USAHANYA DIMASA YANG AKAN DATANG. ARTINYA
PERUSAHAAN TIDAK BERMAKSUD MELIKUIDASI DAN MENGURANGI
SECARA MATERIAL SKALA USAHANYA
KARAKTERISTIK LAPORAN
KEUANGAN
MELIPUTI :
A. DAPAT DIPAHAMI
B. RELEVAN
C. KEANDALAN
D. DAPAT DIBANDINGKAN
E. TEPAT WAKTU
UNSUR POSISI KEUANGAN
AKTIVA
Adalah sumberdaya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan diharapkan akan
memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan di masa
depan
KEWAJIBAN
Adalah utang perusahaan masa kini yang timbul dari
peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diharapkan akan
mengakibatkan arus keluar dari sumberdaya perusahaan
yang mengandung manfaat ekonomi
EKUITAS
Adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi
semua kewajiban
UNSUR KINERJA PERUSAHAAN
PENGHASILAN
Adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan
aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari setoran penanam
modal
BEBAN
Adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya
aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan
penurunan ekuitas yang menyangkut pembagian kepada
penanam modal
PENGAKUAN UNSUR LAPORAN
KEUANGAN
PENGAKUAN AKTIVA
PENGAKUAN KEWAJIBAN
PENGAKUAN PENGHASILAN
PENGAKUAN BEBAN
JENIS DAN BENTUK LAPORAN
KEUANGAN
JENIS LAPORAN KEUANGAN
A. NERACA
ADALAH LAPORAN KEUANGAN YANG
MEMBERIKAN INFORMASI ENGENAI POSISI
KEUANGAN PERUSAHAAN
A. LAPORAN LABA RUGI
MEMBERIKAN INFORMASI MENGENAI
KEMAMPUAN (POTENSI) PERUSAHAAN DALAM
MENGHASILKAN LABA (KINERJA) SELAMA
PERIODE TERTENTU
FORMAT NERACA ( AKTIVA )
AKTIVA LANCAR
CONTOH : KAS, PERSEDIAAN,PIUTANG DAN
PERSEKOT BIAYA
INVESTASI JANGKA PANJANG
CONTOH : INVESTASI SAHAM, INVESTASI OBLIGASI
AKTIVA TETAP
CONTOH : TANAH, GEDUNG, KENDARAAN
AKTIVA TIDAK BERWUJUD
CONTOH : PATENT, GOODWILL, ROYALTY
AKTIVA LAIN‐LAIN
CONTOH : DEPOSITO, PINJAMAN KARYAWAN DLL
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN LANCAR
CONTOH : UTANG DAGANG, UTANG WESEL, UTANG
GAJI DAN UPAH, UTANG PAJAK
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
CONTOH : UTANG OBLIGASI, UTANG HIPOTIK
KEWAJIBAN LAIN‐LAIN
UTANG DIREKSI DAN UTANG PEMEGANG SAHAM
EKUITAS
EKUITAS DARI SETORAN PARA PEMILIK
EKUITAS DARI OPERASI DIVIDEN
BENTUK LAPORAN
1. REKENING
KIRI DAN KANAN
1. LAPORAN
ATAS DAN BAWAH
FORMAT LABA RUGI
PENGHASILAN( INCOME )
BEBAN ( EXPENSE )
Sistem Akuntansi dan Pengembangannya
Implikasi Konsep Kesatuan Usaha
Pemisahan manajemen dan pemilikan sehingga hubungan keduanya merupakan hubungan bisnis (utang-piutang)
•Perusahaan menjadi subjek pelaporan
•Sistem berpasangan
•Ekuitas atau modal merupakan “utang” perusahaan kepada pemilik
•Perlunya pertanggungjawaban
Konsep Kos Historis
Konsep ini menyatakan bahwa dalam pelaporan keuangan, elemen-elemen statemen keuangan dinilai (dilekati jumlah rupiah) atas dasar kos bukan nilai jual, nilai likuidasi, atau harga pasar.
Jadi, kos sebagai data dasar akuntansi digunakan untuk mengukur elemen statemen keuangan yang dilaporkan.
Konsep Kontinuitas Usaha
Konsep ini menyatakan bahwa pada saat atau tanggal pelaporan, perusahaan dianggap akan berlangsung terus dan tidak akan dilikuidasi.
Alasan akuntansi memilih konsep ini:Harapan umum orang mendirikan perusahaan adalah kelangsungan hidup dan berkembangknya perusahaan bukan likuidasi atau kebangkrutan.
Implikasi Konsep Kontinuitas Usaha
•Taksiran dimungkinkan
•Kos historis sebagai dasar penilaian
•Perioda waktu sebagai takaran laba
•Penerapan asas akrual
Konsep Perioda
Konsep ini menyatakan bahwa pengukuran kinerja (laba) dalam akuntansi dilakukan dengan perioda sebagai takarannya.
Akuntansi berkepentingan dengan laba dalam suatu perioda bukan laba untuk separtai barang yang terjual. Akuntansi akan bertanya:
Berapa laba perusahaan untuk enam bulan?
bukan
Berapa laba 100 unit barang tertentu?
Implikasi Konsep Perioda
•Perlunya penandingan yang tepat antara pendapatan dan biaya agar laba yang tepat dapat ditentukan (matching concept)
•Penerapan asas akrual
Asas akrual:Pendapatan diakui bukan pada saat kas diterima tetapi pada saat hak menerima kas atau aset timbul akibat suatu transaksi (misalnya penjualan).Biaya diakui bukan pada saat kas dibayarkan tetapi pada saat kewajiban membayar timbul akibat suatu transaksi (misalnya pajak terhutang).
Konsep Perioda
Konsep ini menyatakan bahwa akuntansi lebih menekankan aspek substantif suatu kejadian daripada aspek yuridis atau legal.
Substansi ekonomik suatu transaksi lebih penting daripada aspek yuridis.
Contoh:
Untuk mengakui suatu objek sebagai aset, akuntansi tidak mensyaratkan pemilikan(aspek yuridis) tetapi lebih mementingkan penguasaan(aspek ekonomik) terhadap aset.
Pengertian Depresiasi
Bagian kos aset tetap berwujud yang telah diperhitungkan sebagai biaya karena pemakaian atau penyerapan manfaat (potensi jasa) aset.
Depresiasi merupakan biaya sehingga berakibat berkurangnya modal.
Untuk kekayaan tambang disebut deplesi
sedangkan untuk aset tak berujud disebut amortisasi.
Persamaan Akuntansi
•Hubungan fungsional antarakun sebagai akibat konsepkesatuan usaha
•Keterpisahan antara manajemen dan pemilik menuntut adanya pertanggungjawaban
•Pertanggungjawaban yang menghendaki bahwa kekayaan yang dipercayakan kepada manajemen ditunjukkan sumber atau asalnya
•Pelaporan keuangan harus mengikuti hubungan tersebut
•Agar statemen dapat disusun dengan cepat tempat mencatat harus mengikuti persamaan akuntansi
Pemisahan manajemen dan pemilikan sehingga hubungan keduanya merupakan hubungan bisnis (utang-piutang)
•Perusahaan menjadi subjek pelaporan
•Sistem berpasangan
•Ekuitas atau modal merupakan “utang” perusahaan kepada pemilik
•Perlunya pertanggungjawaban
Konsep Kos Historis
Konsep ini menyatakan bahwa dalam pelaporan keuangan, elemen-elemen statemen keuangan dinilai (dilekati jumlah rupiah) atas dasar kos bukan nilai jual, nilai likuidasi, atau harga pasar.
Jadi, kos sebagai data dasar akuntansi digunakan untuk mengukur elemen statemen keuangan yang dilaporkan.
Konsep Kontinuitas Usaha
Konsep ini menyatakan bahwa pada saat atau tanggal pelaporan, perusahaan dianggap akan berlangsung terus dan tidak akan dilikuidasi.
Alasan akuntansi memilih konsep ini:Harapan umum orang mendirikan perusahaan adalah kelangsungan hidup dan berkembangknya perusahaan bukan likuidasi atau kebangkrutan.
Implikasi Konsep Kontinuitas Usaha
•Taksiran dimungkinkan
•Kos historis sebagai dasar penilaian
•Perioda waktu sebagai takaran laba
•Penerapan asas akrual
Konsep Perioda
Konsep ini menyatakan bahwa pengukuran kinerja (laba) dalam akuntansi dilakukan dengan perioda sebagai takarannya.
Akuntansi berkepentingan dengan laba dalam suatu perioda bukan laba untuk separtai barang yang terjual. Akuntansi akan bertanya:
Berapa laba perusahaan untuk enam bulan?
bukan
Berapa laba 100 unit barang tertentu?
Implikasi Konsep Perioda
•Perlunya penandingan yang tepat antara pendapatan dan biaya agar laba yang tepat dapat ditentukan (matching concept)
•Penerapan asas akrual
Asas akrual:Pendapatan diakui bukan pada saat kas diterima tetapi pada saat hak menerima kas atau aset timbul akibat suatu transaksi (misalnya penjualan).Biaya diakui bukan pada saat kas dibayarkan tetapi pada saat kewajiban membayar timbul akibat suatu transaksi (misalnya pajak terhutang).
Konsep Perioda
Konsep ini menyatakan bahwa akuntansi lebih menekankan aspek substantif suatu kejadian daripada aspek yuridis atau legal.
Substansi ekonomik suatu transaksi lebih penting daripada aspek yuridis.
Contoh:
Untuk mengakui suatu objek sebagai aset, akuntansi tidak mensyaratkan pemilikan(aspek yuridis) tetapi lebih mementingkan penguasaan(aspek ekonomik) terhadap aset.
Pengertian Depresiasi
Bagian kos aset tetap berwujud yang telah diperhitungkan sebagai biaya karena pemakaian atau penyerapan manfaat (potensi jasa) aset.
Depresiasi merupakan biaya sehingga berakibat berkurangnya modal.
Untuk kekayaan tambang disebut deplesi
sedangkan untuk aset tak berujud disebut amortisasi.
Persamaan Akuntansi
•Hubungan fungsional antarakun sebagai akibat konsepkesatuan usaha
•Keterpisahan antara manajemen dan pemilik menuntut adanya pertanggungjawaban
•Pertanggungjawaban yang menghendaki bahwa kekayaan yang dipercayakan kepada manajemen ditunjukkan sumber atau asalnya
•Pelaporan keuangan harus mengikuti hubungan tersebut
•Agar statemen dapat disusun dengan cepat tempat mencatat harus mengikuti persamaan akuntansi
Siklus Akuntansi
Siklus akuntansi adalah suatu proses penyediaan laporan keuangan perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu. Siklus ini dimulai dari terjadinya transaksi, sampai penyiapan laporan keuangan pada akhir suatu periode.
1. TRANSAKSI
Transaksi usaha adalah kejadian yang dapat mempengaruhi posisi keuangan dari suatu badan usaha dan juga sebagai hal yang handal/wajar untuk dicatat.3 Transaksi ini biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen.
Sebagai contoh transaksi yang dapat terjadi dalam suatu perusahaan adalah: pembayaran rekening telepon bulanan, pembelian barang dagangan secara kredit, pembelian tanah dan gedung, dan lain sebagainya.
Suatu transaksi tertentu dapat menimbulkan peristiwa atau keadaan yang mengakibatkan transaksi lainnya. Misalnya, pembelian barang dagangan secara kredit akan disusul dengan transaksi lainnya, yaitu pembayaran kepada kreditor.
2. PEMBUATAN BUKTI ASLI.
Sebagaimana disebutkan diatas transaksi yang terjadi biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen. Suatu transaksi baru dikatakan sah atau benar bila didukung oleh bukti- bukti yang sah, akan tetapi harus pula disadari bahwa ada transaksi-transaksi yang tidak mempunyai bukti secara tertulis, misalnya pencurian barang dagangan. Transaksi ini merupakan transaksi yang bersifat luar biasa.
Semua transaksi baik yang terjadi secara rutin atau tidak merupakan bahan untuk menyusun laporan keuangan dengan jalan mencatat dan mengolah transaksi itu lebih lanjut.
Bukti-bukti asli yang dapat mendukung setiap terjadinya transaksinya transaksi antara lain : kwitansi, faktur dan bentuk – bentuk lain.4
Kwitansi
Kwitansi merupakan bukti bahwa seseorang atau badan hukum telah menerima sejumlah uang tunai.
Faktur Penjualan atau Pembelian
Setiap penjualan secara kredit memerlukan bukti yang disebut faktur. Bagi si penjual faktur tersebut merupakan faktur penjualan sebaliknya faktur yang dikirimkan kepada sipembeli merupakan faktur pembelian.
Bukti-bukti lain
Disamping kwitansi dan faktur terdapat bukti lain, misalnya: nota-nota dari Bank (nota debet atau nota kredit) , serta bukti pengirirnan atau penerimaan barang
3. PENCATATAN DALAM BUKU HARIAN (JURNAL).
Transaksi dicatat pertama kali yang disebut Buku Harian (Jurnal). Jurnal adalah suatu catatan kronologis dari transaksi entitas.5
Sebagaimana di tunjukkan oleh nama-nma kolom, jurnal memberikan informasi berikut:
Tanggal, merupakan hal yang sangat penting karena memungkinkan kapan terjadinya transaksi
Nama perkiraan.
Kolom debet, menunjukkan jumlah yang didebet
Kolom kredit, menunjukkan jumlah yang dikredit.
Proses pencatatan mengikuti lima langkah berikut ini:
a) Mengidentifikasikan transaksi dari dokumen sumbernya, misalnya dari slip deposito bank, penerimaan penjualan dan cek.
b) Menentukan setiap perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut dan mengklasifikasikan berdasarkan jenisnya (aktiva, kewajiban atau modal).
c) Menetapkan apakah setiap perkiraan tersebut mengalami penambahan atau pengurangan yang disebabkan oleh transaksi itu.
d) Menetapkan apakah harus mendebet atau mengkredit perkiraan.
e) Memasukkan transaksi tersebut kedalam jurnal.
4. PENCATATAN BUKU BESAR DAN BUKU TAMBAHAN.
a. Buku Besar (Ledger)
Untuk memudahkan menyusun informasi yang akan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukannya terutama pimpinan perusahaan rnaka perkiraan-perkiraan yang sudah dihimpun didalam buku harian tersebut harus pula dipisah-pisahkan atau digolongkan menurut jenisnya. Menggolongkan perkiraan menurut jenis perkiraan tersebut dinamakan menyusun buku besar besar itu merupakan penggolongan perkiraan menurut jenisnya.
Jumlah buku besar yang dimiliki perusahaan tergantung pada banyaknya jenis perkiraan yang ditimbulkan oleh transaksi-transaksi perusahaan tersebut, karena masing-masing jenis besarnya sendiri- sendiri.
Judul kolom yang mengidentifikasikan perkiraan buku besar menampilkan: Tanggal, Kolom item, Kolom debet, berisi jumlah yang didebet, dan Kolom kredit, berisi jumlah yang dikredit.
Pemindah bukuan perkiraan memiliki buku berarti memindahkan jumlah dari jurnal kedalam perkiraan yang sesuai dalam buku besar. Debet dalam jurnal dipindahkan sebagai debet dibuku besar, dan kredit dalam jurnal dipindahkan sebagai kredit dalam buku besar.
b. Buku Tambahan (Sub Ledger)
Beberapa perkiraan memerlukan penjelasan secara terperinci untuk mendukung pas-pas Neraca dan Perhitungan Laba-Rugi. Pada perkiraan piutang diperlukan penjelasan kepada siapa kita berpiutang (nama langganan) dan berapa saldo masing-masing langganan. Pada perkiraan hutang diperlukan penjelasan kepada siapa kita berhutang (nama kreditur) dan berapa saldo masing-masing kreditur.
Untuk mengetahui perubahan saldo dari tiap-tiap langganan/ kreditur dibukalah perkiraan untuk tiap langganan/kreditur. Kumpulan yang dari terpisah perkiraan ini disebut buku besar tambahan (buku tambahan).
5. NERACA LAJUR
Setelah seluruh transaksi selama periode dibukukan di buku besar, dihitung. Setiap saldo masing-masing perkiraan dapat perkiraan akan memiliki saldo debet, kredit, atau nol. Neraca saldo adalah suatu daftar dari saldo-saldo perkiraan ini, dan karenanya menunjukkan apakah total debet sama dengan total kredit. Jadi suatu neraca saldo merupakan suatu alat untuk mengecek atas kecermatan pencatatan dan pembukuan.
Dalam neraca saldo terdapat hampir semua perkiraan pendapatan dan beban perusahaan. Dikatakan hampir semua, karena masih ada pendapatan dan beban yang mempunyai pengaruh lebih dari satu periode akuntansi. Itulah sebabnya neraca ini disebut dengan neraca saldo yang belum disesuaikan. Untuk itu diperlukan jurnal penyesuaian.
Jurnal penyesuaian adalah ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode untuk menempatkan pendapatan pada periode dimana pendapatan tersebut dihasilkan dan beban pada periode dimana beban itu terjadi.7
Jurnal penyesuaian akan membuat pengukuran laba periode tersebut lebih akurat dan memperbaharui perkiraan Aktiva dan Kewajiban sehingga memiliki nilai sisa yang tepat bagi laporan keuangan. Dengan kata lain, melalui jurnal penyesuaian dapat ditimbulkan perkiraan yang tidak kelihatan.
Perkiraan-perkiraan yang memerlukan penyesuaian antara lain ialah:
1. Biaya-biaya yang masih harus dibayar
2. Pendapatan yang masih harus diterirna
3. Biaya-biaya yang dibayar lebih dahulu
4. Pendapatan yang diterima lebih dahulu
5. Penyusutan bangunan, mesin-mesin dan lain-lain
6. Pemakaian perlengkapan (office supplies dan store supplies)
7. Kemungkinan piutang tidak dapat tertagih
8. Persediaan Barang dagangan.
6. LAPORAN KEUANGAN
Cara penyiapan laporan keuangan yang terbaik adalah mempersiapkan laporan laba rugi terlebih dahulu, disusul dengan laporan perubahan posisi keuangan dan terakhir adalah neraca. Elemen penting yang harus ada dalam laporan keuangan adalah: nama perusahaan, nama laporan, tanggal atau periode yang dicakup laporan, rangka laporan tersebut.
Panah-panah yang terdapat dalam Gambar 5, 6 dan 7, menunjukkan hubungan antara laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan dan neraca.
a) Laporan laba rugi mencerminkan laba bersih atau kerugian bersih yang diperoleh dengan mengurangkan beban dari pendapatan. Karena pendapatan dan beban juga merupakan perkiraan Laporan Perubahan Posisi Keuangan, maka selisih antara pendapatan dan beban tersebut (laba/kerugian bersih) akan dipindahkan kedalam Laporan Perubahan Posisi Keuangan. Jika diperhatikan, laba, bersih pada Gambar 5 sebesar Rp.3.525.000,- menambah modal pemilik dalam gambar 6. Suatu kerugian bersih akan mengurangi modal pemilik
b) Modal adalah dalam neraca, jadi nilai sisa akhir dalam Laporan Perubahan Posisi Keuangan akan dipindahkan kedalam neraca. Nilai ini merupakan elemen keseimbangan yang paling akhir dalam neraca.
7. JURNAL PENUTUP
Jurnal Penutup ialah ayat jurnal yang memindahkan nilai sisa pendapatan, beban, dan pengambilan pribadi dari masing-masing perkiraan ke dalam perkiraan modal.9
Pendapatan yang akan menambah modal pemilik dan beban serta pengambilan pribadi akan mengurangi modal pemilik. Pada saat ayat penutup dipindah bukukan maka perkiraan modal akan menyerap dampak dari nilai sisa perkiraan sementara tersebut. Walau demikian, pendapatan dan beban akan dipindahkan terlebih dahulu kedalam perkiraan yang bernama Ikhtisar Laba Rugi, yang akan mengumpulkan jumlah total debet dari seluruh jumlah beban dan total kredit dari seluruh jumlah pendapatan pada periode tersebut. Perkiraan Ikhtisar lata rugi merupakan suatu "tempat penyimpanan" sementara yang akan digunakan pada proses penutupan. Kemudian nilai sisa dari Ikhtisar laba rugi tersebut akan dipindahkan kedalam modal. Langkah-langkah penutupan perkiraan suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
1) Mendebet setiap perkiraan Pendapatan sebesar nilai sisa kreditnya. Mengkredit Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total pendapatan. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total pendapatan kedalam sisi kredit dari Ikhtisar laba rugi.
2) Mengkredit setiap perkiraan beban sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total beban. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total beban ke dalam sisi debet dari Ikhtisar laba rugi.
3) Mendebet Ikhtisar laba rugi sebesar nilai sisa kreditnya dan mengkredit perkiraan modal.
4) Mengkredit perkiraan Pengambilan Pribadi sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet perkiraan modal pemilik perusahaan.
8. NERACA SALDO SETELAH PENUTUPAN.
Siklus akuntansi akan berakhir dengan neraca saldo setelah penutupan. Neraca saldo setelah penutupan adalah pengujian terakhir mengenai ketepatan penjurnalan dan pemindah bukuan ayat jurnal penyesuaian dan penutupan. Seperti halnya neraca saldo yang terdapat pada awal pembuatan neraca lajur, neraca saldo setelah penutupan adalah daftar seluruh perkiraan dengan nilai sisanya. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa buku besar berada pada posisi yang seimbang untuk memulai periode akuntansi berikutnya. Neraca saldo setelah penutupan diberi tanggal perakhir periode akuntansi dimana laporan tersebut dibuat.
Isi perkiraan Neraca adalah nilai sisa akhir dari daftar permanen yaitu perkiraan neraca: aktiva, kewajiban dan modal. Didalamnya tidak termasuk perkiraan sementara, seperti perkiraan pendapatan, beban atau pengambilan pribadi, karena nilai sisa perkiraan tersebut telah ditutup.
1. TRANSAKSI
Transaksi usaha adalah kejadian yang dapat mempengaruhi posisi keuangan dari suatu badan usaha dan juga sebagai hal yang handal/wajar untuk dicatat.3 Transaksi ini biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen.
Sebagai contoh transaksi yang dapat terjadi dalam suatu perusahaan adalah: pembayaran rekening telepon bulanan, pembelian barang dagangan secara kredit, pembelian tanah dan gedung, dan lain sebagainya.
Suatu transaksi tertentu dapat menimbulkan peristiwa atau keadaan yang mengakibatkan transaksi lainnya. Misalnya, pembelian barang dagangan secara kredit akan disusul dengan transaksi lainnya, yaitu pembayaran kepada kreditor.
2. PEMBUATAN BUKTI ASLI.
Sebagaimana disebutkan diatas transaksi yang terjadi biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen. Suatu transaksi baru dikatakan sah atau benar bila didukung oleh bukti- bukti yang sah, akan tetapi harus pula disadari bahwa ada transaksi-transaksi yang tidak mempunyai bukti secara tertulis, misalnya pencurian barang dagangan. Transaksi ini merupakan transaksi yang bersifat luar biasa.
Semua transaksi baik yang terjadi secara rutin atau tidak merupakan bahan untuk menyusun laporan keuangan dengan jalan mencatat dan mengolah transaksi itu lebih lanjut.
Bukti-bukti asli yang dapat mendukung setiap terjadinya transaksinya transaksi antara lain : kwitansi, faktur dan bentuk – bentuk lain.4
Kwitansi
Kwitansi merupakan bukti bahwa seseorang atau badan hukum telah menerima sejumlah uang tunai.
Faktur Penjualan atau Pembelian
Setiap penjualan secara kredit memerlukan bukti yang disebut faktur. Bagi si penjual faktur tersebut merupakan faktur penjualan sebaliknya faktur yang dikirimkan kepada sipembeli merupakan faktur pembelian.
Bukti-bukti lain
Disamping kwitansi dan faktur terdapat bukti lain, misalnya: nota-nota dari Bank (nota debet atau nota kredit) , serta bukti pengirirnan atau penerimaan barang
3. PENCATATAN DALAM BUKU HARIAN (JURNAL).
Transaksi dicatat pertama kali yang disebut Buku Harian (Jurnal). Jurnal adalah suatu catatan kronologis dari transaksi entitas.5
Sebagaimana di tunjukkan oleh nama-nma kolom, jurnal memberikan informasi berikut:
Tanggal, merupakan hal yang sangat penting karena memungkinkan kapan terjadinya transaksi
Nama perkiraan.
Kolom debet, menunjukkan jumlah yang didebet
Kolom kredit, menunjukkan jumlah yang dikredit.
Proses pencatatan mengikuti lima langkah berikut ini:
a) Mengidentifikasikan transaksi dari dokumen sumbernya, misalnya dari slip deposito bank, penerimaan penjualan dan cek.
b) Menentukan setiap perkiraan yang dipengaruhi oleh transaksi tersebut dan mengklasifikasikan berdasarkan jenisnya (aktiva, kewajiban atau modal).
c) Menetapkan apakah setiap perkiraan tersebut mengalami penambahan atau pengurangan yang disebabkan oleh transaksi itu.
d) Menetapkan apakah harus mendebet atau mengkredit perkiraan.
e) Memasukkan transaksi tersebut kedalam jurnal.
4. PENCATATAN BUKU BESAR DAN BUKU TAMBAHAN.
a. Buku Besar (Ledger)
Untuk memudahkan menyusun informasi yang akan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukannya terutama pimpinan perusahaan rnaka perkiraan-perkiraan yang sudah dihimpun didalam buku harian tersebut harus pula dipisah-pisahkan atau digolongkan menurut jenisnya. Menggolongkan perkiraan menurut jenis perkiraan tersebut dinamakan menyusun buku besar besar itu merupakan penggolongan perkiraan menurut jenisnya.
Jumlah buku besar yang dimiliki perusahaan tergantung pada banyaknya jenis perkiraan yang ditimbulkan oleh transaksi-transaksi perusahaan tersebut, karena masing-masing jenis besarnya sendiri- sendiri.
Judul kolom yang mengidentifikasikan perkiraan buku besar menampilkan: Tanggal, Kolom item, Kolom debet, berisi jumlah yang didebet, dan Kolom kredit, berisi jumlah yang dikredit.
Pemindah bukuan perkiraan memiliki buku berarti memindahkan jumlah dari jurnal kedalam perkiraan yang sesuai dalam buku besar. Debet dalam jurnal dipindahkan sebagai debet dibuku besar, dan kredit dalam jurnal dipindahkan sebagai kredit dalam buku besar.
b. Buku Tambahan (Sub Ledger)
Beberapa perkiraan memerlukan penjelasan secara terperinci untuk mendukung pas-pas Neraca dan Perhitungan Laba-Rugi. Pada perkiraan piutang diperlukan penjelasan kepada siapa kita berpiutang (nama langganan) dan berapa saldo masing-masing langganan. Pada perkiraan hutang diperlukan penjelasan kepada siapa kita berhutang (nama kreditur) dan berapa saldo masing-masing kreditur.
Untuk mengetahui perubahan saldo dari tiap-tiap langganan/ kreditur dibukalah perkiraan untuk tiap langganan/kreditur. Kumpulan yang dari terpisah perkiraan ini disebut buku besar tambahan (buku tambahan).
5. NERACA LAJUR
Setelah seluruh transaksi selama periode dibukukan di buku besar, dihitung. Setiap saldo masing-masing perkiraan dapat perkiraan akan memiliki saldo debet, kredit, atau nol. Neraca saldo adalah suatu daftar dari saldo-saldo perkiraan ini, dan karenanya menunjukkan apakah total debet sama dengan total kredit. Jadi suatu neraca saldo merupakan suatu alat untuk mengecek atas kecermatan pencatatan dan pembukuan.
Dalam neraca saldo terdapat hampir semua perkiraan pendapatan dan beban perusahaan. Dikatakan hampir semua, karena masih ada pendapatan dan beban yang mempunyai pengaruh lebih dari satu periode akuntansi. Itulah sebabnya neraca ini disebut dengan neraca saldo yang belum disesuaikan. Untuk itu diperlukan jurnal penyesuaian.
Jurnal penyesuaian adalah ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode untuk menempatkan pendapatan pada periode dimana pendapatan tersebut dihasilkan dan beban pada periode dimana beban itu terjadi.7
Jurnal penyesuaian akan membuat pengukuran laba periode tersebut lebih akurat dan memperbaharui perkiraan Aktiva dan Kewajiban sehingga memiliki nilai sisa yang tepat bagi laporan keuangan. Dengan kata lain, melalui jurnal penyesuaian dapat ditimbulkan perkiraan yang tidak kelihatan.
Perkiraan-perkiraan yang memerlukan penyesuaian antara lain ialah:
1. Biaya-biaya yang masih harus dibayar
2. Pendapatan yang masih harus diterirna
3. Biaya-biaya yang dibayar lebih dahulu
4. Pendapatan yang diterima lebih dahulu
5. Penyusutan bangunan, mesin-mesin dan lain-lain
6. Pemakaian perlengkapan (office supplies dan store supplies)
7. Kemungkinan piutang tidak dapat tertagih
8. Persediaan Barang dagangan.
6. LAPORAN KEUANGAN
Cara penyiapan laporan keuangan yang terbaik adalah mempersiapkan laporan laba rugi terlebih dahulu, disusul dengan laporan perubahan posisi keuangan dan terakhir adalah neraca. Elemen penting yang harus ada dalam laporan keuangan adalah: nama perusahaan, nama laporan, tanggal atau periode yang dicakup laporan, rangka laporan tersebut.
Panah-panah yang terdapat dalam Gambar 5, 6 dan 7, menunjukkan hubungan antara laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan dan neraca.
a) Laporan laba rugi mencerminkan laba bersih atau kerugian bersih yang diperoleh dengan mengurangkan beban dari pendapatan. Karena pendapatan dan beban juga merupakan perkiraan Laporan Perubahan Posisi Keuangan, maka selisih antara pendapatan dan beban tersebut (laba/kerugian bersih) akan dipindahkan kedalam Laporan Perubahan Posisi Keuangan. Jika diperhatikan, laba, bersih pada Gambar 5 sebesar Rp.3.525.000,- menambah modal pemilik dalam gambar 6. Suatu kerugian bersih akan mengurangi modal pemilik
b) Modal adalah dalam neraca, jadi nilai sisa akhir dalam Laporan Perubahan Posisi Keuangan akan dipindahkan kedalam neraca. Nilai ini merupakan elemen keseimbangan yang paling akhir dalam neraca.
7. JURNAL PENUTUP
Jurnal Penutup ialah ayat jurnal yang memindahkan nilai sisa pendapatan, beban, dan pengambilan pribadi dari masing-masing perkiraan ke dalam perkiraan modal.9
Pendapatan yang akan menambah modal pemilik dan beban serta pengambilan pribadi akan mengurangi modal pemilik. Pada saat ayat penutup dipindah bukukan maka perkiraan modal akan menyerap dampak dari nilai sisa perkiraan sementara tersebut. Walau demikian, pendapatan dan beban akan dipindahkan terlebih dahulu kedalam perkiraan yang bernama Ikhtisar Laba Rugi, yang akan mengumpulkan jumlah total debet dari seluruh jumlah beban dan total kredit dari seluruh jumlah pendapatan pada periode tersebut. Perkiraan Ikhtisar lata rugi merupakan suatu "tempat penyimpanan" sementara yang akan digunakan pada proses penutupan. Kemudian nilai sisa dari Ikhtisar laba rugi tersebut akan dipindahkan kedalam modal. Langkah-langkah penutupan perkiraan suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
1) Mendebet setiap perkiraan Pendapatan sebesar nilai sisa kreditnya. Mengkredit Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total pendapatan. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total pendapatan kedalam sisi kredit dari Ikhtisar laba rugi.
2) Mengkredit setiap perkiraan beban sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet Ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total beban. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total beban ke dalam sisi debet dari Ikhtisar laba rugi.
3) Mendebet Ikhtisar laba rugi sebesar nilai sisa kreditnya dan mengkredit perkiraan modal.
4) Mengkredit perkiraan Pengambilan Pribadi sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet perkiraan modal pemilik perusahaan.
8. NERACA SALDO SETELAH PENUTUPAN.
Siklus akuntansi akan berakhir dengan neraca saldo setelah penutupan. Neraca saldo setelah penutupan adalah pengujian terakhir mengenai ketepatan penjurnalan dan pemindah bukuan ayat jurnal penyesuaian dan penutupan. Seperti halnya neraca saldo yang terdapat pada awal pembuatan neraca lajur, neraca saldo setelah penutupan adalah daftar seluruh perkiraan dengan nilai sisanya. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa buku besar berada pada posisi yang seimbang untuk memulai periode akuntansi berikutnya. Neraca saldo setelah penutupan diberi tanggal perakhir periode akuntansi dimana laporan tersebut dibuat.
Isi perkiraan Neraca adalah nilai sisa akhir dari daftar permanen yaitu perkiraan neraca: aktiva, kewajiban dan modal. Didalamnya tidak termasuk perkiraan sementara, seperti perkiraan pendapatan, beban atau pengambilan pribadi, karena nilai sisa perkiraan tersebut telah ditutup.
Langganan:
Komentar (Atom)